<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
> <channel><title>Dokter Spesialis Bedah Malang</title> <atom:link href="http://dokteryudabedah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://dokteryudabedah.com</link> <description></description> <lastBuildDate>Tue, 10 Apr 2012 03:57:17 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator> <item><title>Lidah Buaya Penjinak Luka Kencing Gula</title><link>http://dokteryudabedah.com/lidah-buaya-penjinak-luka-kencing-gula/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/lidah-buaya-penjinak-luka-kencing-gula/#comments</comments> <pubDate>Fri, 17 Feb 2012 23:30:03 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Umum]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=392</guid> <description><![CDATA[Gel Aloe vera mampu menggantikan peran insulin. Merangsang tubuh menghasilkan zat-zat untuk menyenbuhkan cedera pada penderita diabetes. Jangan meremehkan tanaman lidah buaya (aloe vera)! Tumbuhan berdaun tebal dengan gerigi berduri di setiap sisinya itu ternyata tidak sekedar berfungsi mentuburkan rambut, sebagaimana dikenal luas oleh masyarakat selama ini. Getah atau lendir daun lidah buaya ternyata juga <a
href="http://dokteryudabedah.com/lidah-buaya-penjinak-luka-kencing-gula/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<h3><em>Gel Aloe vera mampu menggantikan peran insulin.</em><br
/> <em>Merangsang tubuh menghasilkan zat-zat untuk menyenbuhkan cedera pada penderita diabetes</em>.</h3><p>Jangan meremehkan tanaman lidah buaya (aloe vera)! Tumbuhan berdaun tebal dengan gerigi berduri di setiap sisinya itu ternyata tidak sekedar berfungsi mentuburkan rambut, sebagaimana dikenal luas oleh masyarakat selama ini. Getah atau lendir daun lidah buaya ternyata juga berguna menyembuhkan luka pada penderita kencing manis atau diabetes<br
/> melitus.</p><p>Adalah Adeodatus Yuda Handaya yang menemukan manfaat teranyar gel lidah buaya ini bagi dunia kedokteran.Temuan yang didapat lewat penelitian  ini mengantarkan Yuda meraih gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, pada Januari lalu. Dia berhasil mempertahankan disertasi berjudul &#8220;Peran Aloe Gl Terhadap Ekpresi VEGF dan eNOS sebagai Aktivator Peyembuhan Luka  Melalui Rasio EPC/CEC pada Diabetes Melitus&#8221;. Atau bahasa sederhananya, terapi herbal lidah buaya untuk penyembuhan luka ulkus diabetes.<br
/> Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit yang disertai kematian jaringan yang meluas karena kuman. Luka pada kaki yang disebut kaki diabetik itu merupakan suatu komplikasi yang bisa terjadi pada penderita kencing gula. Ulkus terjadi karena pembuluh darah menyempit dan kadar gula yang berlebih pada jaringan. Kandungan gula itu menjadi media yang baik bagi berkembangnya kuman.</p><p>Kuman membuat luka semakin lebar, membusuk , dan sulit sembuh. Ulkus timbul di daerah yang sering mendapat tekanan, biasanya telapak kaki,. Berbentuk bulat, berdiameter lebih dari 1 sentimeter. Jika tidak ditangani dengan baik, luka kaki diabetik tidak jarang berakhir di meja bedah. Kadang-kadang menyebabkan kematian. Kaki diabetik terjadi pada lebih-kurang 15% dari semua pasien diabetes melitus, dengan resiko kambuh dalam lima tahun sebesar 70%. data lain menunjukkan, 84% penderita kaki diabetik berakhir dengan amputasi kaki. Kondisi inilah yang membuat Yuda tergerak meneliti tanaman obat untuk luka kencing gula. Dia memilih. lidah buaya</p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/02/Cara-Merawat-Lidah-Buaya.jpg"><img
class="alignleft size-medium wp-image-396" title="Cara-Merawat-Lidah-Buaya" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/02/Cara-Merawat-Lidah-Buaya-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Diantara kelebihan lidah adalah mudah tumbuh dan berkembang di Indonesia atau wilayah tropis lainnya. Tanaman ini biasa dipakai di masyarakat sebagai penyubur rambut atau mengobati luka secara umum. Namun manfaat lidah buaya untuk luka kaki diabetik yang berkaitan perannya dalam perbaikan kerusakan pembuluh darah sangat jarang atau belum diteliti. dalam gel Lidah buaya terdapat ratusan bahan aktif. salah satunya adalah acemannan yang bersifat anti-kuman sehingga mempercepat menyembuhkan luka. Acemanan juga mampu merangsang serapan oksigen, sehingga meningkatkan angiogenesis (perbaikan pembuluh darah). Salah satu  penyebab luka menjalar pada kaki kencing gula adalah rusaknya pembuluh darah, baik mikro maupun makro, yang menyebabkan nutrisi dan komponen penyebuhan lainnya tidak bisa sampai secara efektif pada luka. Lewat peran acemannan  yang memperbaiki pembuluh darah, nutrisi penyembuh luka menjadi lebih efektif. Zat itu juga meningkatkan sintesis kolagen diarea luka. Kolagen adalah salah satu protein yang menyusun tubuh manusia. Dengan  demikian, luka akan mudah sembuh dengan kehadiran kolagen itu. Acemannan memiliki kemampuan mencegah atau membatalkan infeksi virus. Berdasarkan penelitian, acemannan  juga sanggup menghambat perkembangan HIV&#8211;virus penyebab AIDS. Gel lidah buaya pun mengandung aloin dan enzim(amilase, lipase) yang memiliki efek dalam melawan kelebihan  gula darah. Gel lidah buaya bahkan mampu memaksimalkan oksidasi glukosa intraseluler, sehingga kelebihan glukosa dalam darah dapat digunakan secara maksimal oleh sel melalui respirasi aerobik, yang akan menjadi penyedia energi utama dalam tubuh.</p><p>Untuk membuat ekstrak lidah buaya, Yuda menjelaskan, daun lidah buaya dibersihkan dengan anti-kuman tak beracun  , lalu ditiriskan getahnya. kemudian diambil kandungan gelnya dan dibuat jus. Jus lidah buaya ini didiamkan beberapa jam untuk pengendapan pada suhu tertentu. Endapan yang terbentuk  dipisahkan dari larutan nya menggunakan saringan pengisap. Selanjutnya endapan itu dikeringkan dengan oven(vacuum dryer). Pada suhu 50 derajat celcius sehingga menjadi serbuk. “ itu cara sederhananya.  Jika sudah masuk pabrikan, prosesnya akan lebih canggih,” kata dokter spesialis bedah itu.</p><p>Dalam percoban, Yuda menggunakan model tikus Norwegia (Rattus norvegicus). Dia membaginya menjadi kelompok normal kontrol negatif (non-diabetes), diabetes kontrol positif, dan kelompok diabetes perlakuan atau diberi gel lidah buaya. kelompok yang diberi gel dibagi menjadi tiga kelompok, dosis 30 miligram per hari,  (mg/hari), 60 mg/hari, dan 120 mg/hari.</p><p>dalam percobaan yang dilakukan adalah memeriksa penyembuhan luka dengan mengamati dan mngukur area luka. Menentukan ekspresi vascular endhotelial growth factor (VEGF). VEGF adalah protein sinyal yang dihasilkan sel yang merangsang terbentuknya pembuluh darah baru dan memperbaiki pembuluh darah yang telah ada. Fungsi normal VEGF adalah meciptakan pembuluh darah baru embrio dan setelah cedera.</p><p>Juga mengalisis eNOS(endhotel  nitrit oxide sytbase) pada jaringan epitel. endhotel  nitrit oxide sytbase adalah keluarga enzim yang menganalisis produksi nitrat oksida (NO). NO adalah molekul yang penting dalam proses biologi. Misalnya mengontrol tekanan darah, sekresi insulin dan nada saluran napas, serta pertumbuhan pembuluh darah  baru dan pengembangan sistem, saraf. NO pun sangat erat kaitannya dengan mekanisme pertahanan tubuh dan imunitas.</p><p>Penelitian ini juga menghitung jumlah endothelial progenitor cell (EPC), yakni populasi sel langka yang beredar dalam darah dengan kemampuan untuk menurun menjadi sel endotel, sel-sel yang membetuk lapisan pembuluh darah. semua itu dilakukan setelah 14 hari pembuatan luka. Yuda menjelaskan hasil penelitian menunjukkan , aloe gel memiliki efek memas imunitas, menyeimbangkan glukosa darah, dan meminimalisasi nyeri.   Pada kelompok hewan yang diberi aloe gel, tampak pengikatan diameter  arteri yang menuju kondisi normal.</p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/02/lidah-buaya.jpg"><img
class="alignleft size-medium wp-image-395" title="lidah buaya" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/02/lidah-buaya-300x188.jpg" alt="" width="300" height="188" /></a>Setelah melakukan penelitian panjang, sekitar tiga tahun, Yuda menyimpulkan, aloe gel berperan dalam meningkatkan penyembuhan luka dengan merangsang ekspresi VEGF dan eNOS, meningkatkan jumlah EPC, sehingga meningkatkan penyembuhan luka pada diabetes. dari penelitianya itu, dia berharap, paramedis dapat menentukan langkah terapi yang tepat untuk penderita kencing gula. Sehingga tidak memperburuk dan mengarah pada meja bedah (amputasi). Penelitian Yuda itu mendapat apresiasi tinggi dari ahli diabetes Prof. Dr. Askandar  Tjokroprawiro. Dia menilai, penelitia ini merupakan hal baru. “Ini  menambah perbendaharaan obat,” kata ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, itu.</p><p>Hal baru dari penelitian dari penelitian itu, gel lidah buaya mampu mengaktifkan VEGF, yang merupakan komponen penghasil EPC. Kemudian EPC dikumpulkan untuk menyembuhkan luka. pada penderita kencing manis, VEGF maupun EPC menurun. Mengaktifkan  VEGF maupun EPC bisa dengan insulin, “Zat yang terkandung dalam aloe vera memiliki fungsi yang sama dengan insulin ,” kata dosen penguji disertasi Yuda itu.</p><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/lidah-buaya-penjinak-luka-kencing-gula/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Aloe Gel Terapi Herbal Penyembuhan Luka Ulkus Diabetes</title><link>http://dokteryudabedah.com/aloe-gel-terapi-herbal-penyembuhan-luka-ulkus-diabetes/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/aloe-gel-terapi-herbal-penyembuhan-luka-ulkus-diabetes/#comments</comments> <pubDate>Tue, 10 Jan 2012 09:55:32 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Umum]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=374</guid> <description><![CDATA[Disertasi Adeodatus Yuda Handaya: Aloe Gel Terapi Herbal Penyembuhan Luka Ulkus Diabetes Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap  komplikasi mikro dan makrovaskular termasuk ulkus diabetes yang dapat menyebabkan morbiditas. Ulkus diabetes ditandai terhentinya proses penyembuhan luka akibat terganggunya sejumlah proses termasuk inflamasi, defisiensi growth factor proangiogenik, deposisi matrik dan remodeling spesifik <a
href="http://dokteryudabedah.com/aloe-gel-terapi-herbal-penyembuhan-luka-ulkus-diabetes/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Disertasi Adeodatus Yuda Handaya:</strong></p><p><strong> Aloe Gel Terapi Herbal Penyembuhan Luka Ulkus Diabetes</strong></p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/01/71357_aloe_vera_641_452.jpg"><img
class="alignleft size-medium wp-image-375" title="71357_aloe_vera_641_452" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/01/71357_aloe_vera_641_452-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a>Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap  komplikasi mikro dan makrovaskular termasuk ulkus diabetes yang dapat menyebabkan morbiditas. Ulkus diabetes ditandai terhentinya proses penyembuhan luka akibat terganggunya sejumlah proses termasuk inflamasi, defisiensi growth factor proangiogenik, deposisi matrik dan remodeling spesifik dan vital diperkirakan akan meningkatkan pada sitokin dan growth factor spesifik serta  vital diperkirakan akan meningkatkan penyembuhan luka diabetes.</p><p>Salah satu obat herbal yang bisa digunakan adalah aloe gel yang terbuat dari lidah buaya digunakan secara oral akan meningkatkan penyembuhan luka.Demikian disampaikan Adeodatus Yuda Handaya dalam ujian disertasinya yang  berjudul &#8220;Peran Aloe Gel Terhadap Ekspresi VEGF dan e NOS Sebagai Activator Penyembuhan Luka Melalui Rasio EPC/CEC pada Diabetes Melitus&#8221; pada Selasa (3/1) di Ruang Auditorium Lantai enam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB).?Lebih lanjut Yuda menjelaskan hasil penelitian terbaru dan penggunaan klinis menyebutkan Aloe gel memiliki efek pemacuan imunitas, menyeimbangkan glukosa darah serta meminimalisasi nyeri. Hanya pada kelompok dengan perlakuan Aloe Gel menunjukan peningkatan diameter arteriolar menuju kondisi normal. Dalam penelitiannya Yuda menngunakan desain eksperimen murni yang dikerjakan di laboratorium secara in vivo dengan menggunakan hewan model  Galur Wistar Rattus norvegicus yang dibagi ke dalam lima kelompok yaitu Kelompok normal control negative (non-diabetes), diabetes control positif dan ditambah kelompok diabetes dengan perlakuan  yaitu kelompok Aloe gel 30 mg/hari, Aloe gel 60 mg/hari dan kelompok Aloe gel 120 mg/hari.</p><p>Ada beberap tahap dalam percobaan ini yaitu pada tahap pertama, memeriksa penyembuhan luka dengan mengamati dan mengukur area luka. Tahap kedua  menentukan ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan pada Endothel Nitrit Oxide Sythase (eNOS) pada jaringan epitel (stratum basale) secara immunoshitokimia dan tahap ketiga menilai jumlah Endothelial Progenitor Cell (EPC) dan Circulating Endothelial Cell (CEC) serta menghitung rasio EPC/CEC dalam darah dengan menggunakan flow-cytometry, semua dilakukan pada hari 14 setelah pembuatan luka. ?Sedangkan parameter yang diamati didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut; Gel lidah buaya telah dikenal untuk memicu ekspresi VEGF. VEGF merupakan molekul utama yang terlibat dalam endotel. Melalui transaktivasi dengan IL-8, VEGF juga dapat berperan eNOS untuk menghasilkan NO yang berperan penting pada Ca-2 sebagai mediator signaling.?Berdasarkan hasil penelitiannya, Yuda menyimpulkan Aloe gel berperan dalam meningkatkan penyembuhan luka dengan merangsang ekspresi VEGF dan e NOS, meningkatkan jumlah EPC dan mengurangi jumlah CEC sehingga dengan demikian akan meningkatkan rasio EPC/CEC. Rasio EPC/CEC menunjukan linear correlation dengan peningkatan penyembuhan luka, maka rasio EPC/CEC dapat diusulkan sebagai indicator prognistik baru untuk memprediksi tingkat penyembuhan luka pada diabetes.</p><p>Ujian disertasi Adeodatus Yuda Handaya dipromotori oleh Prof. Dr. dr. H. Djangan Sargowo, SpPD., SpJP (K) (Promotor), Prof. dr. M. Aris Widodo, SpFK., PhD., (Ko Promotor) dan Dra. Diana Lyrawati, M.Si., PhD (Ko Promotor). Sedangkan Majlis penguji yang terlibat adalah Dr. dr. Ketut Muliartha, Sp. PA., Prof. drh. Aulanni&#8217;am, DES., Prof. Dr. dr. Askandar Tjtkroprawiro, SpPD.KEMND.FINASIM [arr] Setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan majelis penguji, Adeodatus Yuda Handaya berhak meraih gelar doktor ilmu kedokteran minat biomedik dengan IPK 3,73, predikat sangat memuaskan, dan masa studi 4 tahun 5 bulan. [mit]</p><p><strong>http://prasetya.ub.ac.id/berita</strong></p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/01/photo.jpg"><img
class="aligncenter size-full wp-image-384" title="photo" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2012/01/photo.jpg" alt="" width="480" height="480" /></a></p><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/aloe-gel-terapi-herbal-penyembuhan-luka-ulkus-diabetes/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Penyebab dan Cara menghilangkan Varises</title><link>http://dokteryudabedah.com/penyebab-dan-cara-menghilangkan-varises/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/penyebab-dan-cara-menghilangkan-varises/#comments</comments> <pubDate>Wed, 13 Apr 2011 15:11:57 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[menghilangkan varises]]></category> <category><![CDATA[mengobati varises]]></category> <category><![CDATA[varises]]></category> <category><![CDATA[varises di kaki]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=349</guid> <description><![CDATA[Definisi Varises adalah vena normal yang mengalami dilatasi akibat pengaruh peningkatanan tekanan vena yang merupakan suatu manifestasi yang dari sindrom insufiensi vena dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami arah aliran retrograde atau aliran balik menuju tungkai yang kemudian mengalami kongesti. Pathofisiologi Adanya tekanan tinggi dalam pembuluh darah vena . dan mengalami dilatasi <a
href="http://dokteryudabedah.com/penyebab-dan-cara-menghilangkan-varises/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<h3>Definisi</h3><p>Varises adalah vena normal yang mengalami dilatasi akibat pengaruh peningkatanan tekanan vena yang merupakan suatu manifestasi yang dari sindrom insufiensi vena dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami arah aliran retrograde atau aliran balik menuju tungkai yang kemudian mengalami kongesti.</p><h3>Pathofisiologi</h3><p>Adanya tekanan tinggi dalam pembuluh darah vena . dan mengalami dilatasi yang kemudian terus membesar sampai katup vena satu sama lain tidak dapat saling betemu. Kegagalan pada satu katup vena akan memicu terjadinya kegagalan pada katup-katup lainnya. Peningkatan tekanan yang berlebihan di dalam sistem vena superfisial akan menyebabkan terjadinya dilatasi vena yang bersifat local sehingga, fungsi vena untuk mengalirkan darah ke atas dan ke vena profunda akan mengalami gangguan.</p><p>Berkurangnya elastisitas dinding pembuluh vena yang menyebabkan pembuluh vena melemah dan tak sanggup mengalirkan darah ke jantung sebagaimana mestinya. Aliran darah dari kaki ke jantung sangat melawan gravitasi bumi, karena itu pembuluh darah harus kuat, begitu juga dengan dinamisasi otot disekitarnya.</p><p>Rusaknya katup pembuluh vena, padahal katup atau klep ini bertugas menahan darah yang mengalir ke jantung agar tidak keluar kembali. Katup yang rusak membuat darah berkumpul di dalam dan menyebabkan gumpalan yang mengganggu aliran darah.</p><p>Pemicu varises antara lain  :  Faktor keturunan,  Kehamilan,  Kurang gerak, Merokok, Terlalu banyak berdiri, Menderita kolesterol tinggi dan kencing manis, Memakai sepatu hak terlalu tinggi.</p><h3>Gejala klinis varises</h3><ol><li>Terlihat tonjolan otot pada kaki</li><li>Kaki terasa berat</li><li>Terasa Nyeri, gatal, rasa terbakar</li><li>Keram pada malam hari</li><li>Perubahan kulit dan kesemutan</li></ol><h3>Penatalaksanaan</h3><p>Varises tahap akut akan memperlihatkan pembuluh darah yang sangat menonjol. Bila suntik tidak membuahkan hasil, maka harus dilakukan pembedahan guna memotong pembuluh vena yang rusak sehingga aliran darah kembali normal.</p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/04/zVarises-web-version.jpg"><img
class="alignleft size-full wp-image-350" title="zVarises (web-version)" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/04/zVarises-web-version.jpg" alt="" width="452" height="640" /></a></p><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/penyebab-dan-cara-menghilangkan-varises/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Pertanyaan Penting Seputar Omfalokel</title><link>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-penting-seputar-omfalokel/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-penting-seputar-omfalokel/#comments</comments> <pubDate>Tue, 05 Apr 2011 08:53:15 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[kelainan dinding perut]]></category> <category><![CDATA[omfalokel]]></category> <category><![CDATA[organ perut keluar]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=345</guid> <description><![CDATA[&#160; Apakah yang dimaksud dengan omfalokel? Jawab: Omphalokel secara bahasa berasal dari bahasa yunani omphalos yang berarti umbilicus=tali pusat dan cele yang berarti bentuk hernia. Omphalokel diartikan sebagai suatu defek sentral dinding abdomen pada daerah cincin umbilikus (umbilical ring)  atau cincin tali pusar sehingga terdapat herniasi organ-organ abdomen dari cavum abdomen namun masih dilapiasi oleh <a
href="http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-penting-seputar-omfalokel/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p><ol><li>Apakah yang dimaksud dengan      omfalokel?<strong><br
/> Jawab:</strong><br
/> <a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/04/omfalokel.jpg"><img
class="alignleft size-medium wp-image-346" title="omfalokel" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/04/omfalokel-262x300.jpg" alt="" width="262" height="300" /></a>Omphalokel secara bahasa berasal dari <strong>bahasa yunani</strong> <em>omphalos </em>yang berarti <em>umbilicus</em>=tali pusat dan <em>cele</em> yang berarti bentuk hernia. Omphalokel diartikan sebagai suatu defek sentral dinding abdomen pada daerah cincin umbilikus (umbilical ring)  atau cincin tali pusar sehingga terdapat herniasi organ-organ abdomen dari cavum abdomen namun masih dilapiasi oleh suatu kantong atau selaput. Omphalocele juga dapat diartikan sebagai kantong bening tidak berpembuluh darah yang terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion pada pangkal tali pusat. Jadi, omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusar yang hanya dilapisi oleh <em>peritoneum</em> (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit.</li><li>Bagaimanakah etiologi      omfelokel?<strong><br
/> Jawab</strong>:<br
/> Penyebab pasti terjadinya omphalokel belum jelas sampai sekarang. Beberapa faktor resiko atau faktor-faktor yang berperan menimbulkan terjadinya omphalokel diantaranya adalah <em>infeksi, penggunaan obat dan rokok pada ibu hamil, defisiensi asam folat, hipoksia, penggunaan salisilat, kelainan genetik serta polihidramnion</em><em>.<br
/> </em>Pada 25-40% bayi yang menderita omfalokel, kelainan ini disertai oleh kelainan bawaan lainnya, seperti kelainan kromosom, hernia diafragmatika dan kelainan jantung.</li><li>Apakah gejala omfelokel??<strong><br
/> Jawab:</strong><br
/> Banyaknya usus dan organ perut lainnya yang menonjol pada omfalokel bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar.<br
/> Jika lubangnya kecil, mungkin hanya usus yang menonjol; tetapi jika lubangnya besar, hati juga bisa menonjol melalui lubang tersebut.</li><li>Bagaimanakah perjalanan Embriogenesis      sehingga terjadinya omfalokel?<strong><br
/> Jawab:</strong><br
/> Pada janin usia 5 – 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom. Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akanmasuk ke rongga perut. Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus, lambung kadang hati. Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar, keadaan ini disebut omfalokel.</li><li> Bagaimanakah cara pengobatan pada      omfalokel?<strong><br
/> Jawab:</strong></p><ol><li><strong></strong>Pasang pipa NG untu mengurangi tekanan       udara</li><li>Cairan IV</li><li>Antibiotik prophylactic (pencegah       penyakit)</li><li>Operasi kembali didnding perut yang rusak</li></ol></li></ol><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-penting-seputar-omfalokel/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Informasi Lengkap Tentang Luka Bakar (pdf)</title><link>http://dokteryudabedah.com/informasi-lengkap-tentang-luka-bakar-pdf/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/informasi-lengkap-tentang-luka-bakar-pdf/#comments</comments> <pubDate>Tue, 29 Mar 2011 00:45:49 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[Umum]]></category> <category><![CDATA[luka bakar]]></category> <category><![CDATA[mengobati luka bakar]]></category> <category><![CDATA[pdf tentang luka bakar]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=337</guid> <description><![CDATA[Luka Bakar ialah luka  yang disebabkan oleh termis, elektris maupun khemis Termis itu seperti: Benda panas: padat, cair, udara/uap Api Sengatan matahari / sinar panas Elektris : Aliran listrik tegangan tinggi Khemis : asam kuat, basa kuat Baca informasi lengkap tentang luka bakar dengan mendownload Informasi Lengkap Tentang Luka Bakar(*.PDF)]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/Menangani-luka-bakar.jpg"><img
class="alignnone size-full wp-image-343" title="Menangani luka bakar" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/Menangani-luka-bakar.jpg" alt="" width="600" height="320" /></a></p><p>Luka Bakar ialah luka  yang disebabkan oleh termis, elektris maupun khemis</p><div>Termis itu seperti:</div><div><ol><li> Benda panas: padat, cair, udara/uap</li><li>Api</li><li>Sengatan matahari / sinar panas</li></ol></div><div>Elektris : Aliran listrik tegangan tinggi</div><div>Khemis : asam kuat, basa kuat</div><div>Baca informasi lengkap tentang luka bakar dengan mendownload Informasi <a
href="../wp-content/uploads/2011/03/Lengkap-Tentang-Luka-Bakar.pdf">Lengkap Tentang Luka Bakar</a>(*.PDF)</div><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/informasi-lengkap-tentang-luka-bakar-pdf/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Pertanyaan Tentang penyakit MEGA KOLON/PENYAKIT HISPRUNG</title><link>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-tentang-penyakit-mega-kolonpenyakit-hisprung/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-tentang-penyakit-mega-kolonpenyakit-hisprung/#comments</comments> <pubDate>Sun, 20 Mar 2011 09:11:29 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category> <category><![CDATA[diagnosa hisprung]]></category> <category><![CDATA[penyakit hisprung]]></category> <category><![CDATA[penyakit mega colon]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=334</guid> <description><![CDATA[Apa yang dimaksud dengan mega kolon/penyakit hisprung? Jawaban: Mega kolon/penyakit hisprung adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya permasalahan pada persyarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Syaraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar dan menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau kalaupun ada sedikit sekali. &#160; Gejala-gejala apa saja <a
href="http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-tentang-penyakit-mega-kolonpenyakit-hisprung/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p
style="text-align: center;"><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/hisprung.jpg"><img
class="alignnone size-medium wp-image-335" title="hisprung" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/hisprung-300x215.jpg" alt="" width="300" height="215" /></a></p><ul><li><div>Apa yang dimaksud dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Mega kolon/penyakit hisprung adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya permasalahan pada persyarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Syaraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar dan menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau kalaupun ada sedikit sekali.</p><p>&nbsp;</li><li><div>Gejala-gejala apa saja yang terjadi pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Gejala-gejala yang terjadi pada pasien mega kolon/penyakit hisprung antara lain:</p><ul><li>Pada bayi yang baru lahir tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja pertama pada bayi baru lahir)</li><li>Tidak dapat buang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, perut menggembung, muntah</li><li>Diare encer (pada bayi baru lahir)</li><li>Berat badan tidak bertambah</li><li>Malabsorpsi</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Apa penyebab dari terjadinya mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Beberapa penyebab mega kolon/penyakit hisprung antara lain:</p><ul><li>Keturunan, karena penyakit ini merupakan penyakit bawaan sejak lahir</li><li>Faktor lingkungan</li><li>Tidak adanya sel-sel ganglion dalam rectum atau bagian rectosigmoid kolon</li><li>Ketidak mampuan sfingter rectum berelaksasi</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Bagaimana patofisiologi dari mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Patofisiologi dari mega kolon/penyakit hisprung adalah:</p><p><img
src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/032011_0911_PetanyaanTe1.png" alt="" /></li><li><div>Manifestasi klinis apa yang terjadi pada bayi dan anak-anak dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Manifestasi klinis pada bayi dan anak-anak antara lain:</p><ul><li>Konstipasi</li><li>Diare berulang</li><li>Tinja seperti pipa, berbau busuk</li><li>Distensi abdomen</li><li>Gagal tumbuh</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Diagnosis atau masalah keperawatan apa yang terjadi pada anak dengan mega kolon/penyakit hisprung prapembedahan?</div><p>Jawaban:</p><p>Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan mega kolon/penyakit hisprung prapembedahan antara lain:</p><ul><li>Konstipasi</li><li>Kurang volume cairan dan elektrolit</li><li>Gangguan kebutuhan nutrisi</li><li>Gangguan pertumbuhan dan perkembangan</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Pemeriksaan apa saja yang biasa dilakukan pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Pemeriksaan yang biasa dilakukan pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung antara lain:</p><ul><li>Rontgen perut (menunjukkan pelebaran usus besar yang terisi oleh gas dan tinja)</li><li>Barium enema</li><li>Manometri anus (pengukuran tekana sfingter anus dengan cara mengembangkan balon di dalam rektum)</li><li>Biopsi rectum (menunjukkan tidak adanya ganglion sel-sel saraf)</li></ul></li></ul><p>&nbsp;</p><ul><li><div>Jelaskan penatalaksanaan pada pasien mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Penatalaksanaan pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung antara lain:</p><ul><li><div>Pembedahan:</div><p>Pembedahan pada mega kolon/penyakit hisprung dilakukan dalam dua tahap. Mula-mula dilakukan kolostomi loop atau double barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertrofi dapat kembali normal (memerlukan waktu kira-kira 3 sampai 4 bulan).</li><li><div>Konservatif</div><p>Pada neonatus dengan obstruksi usus dilakukan terapi konservatif melalui pemasangan sonde lambung serta pipa rectal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.</p><p>&nbsp;</p><p>&nbsp;</li><li><div>Tindakan bedah sementara</div><p>Hal ini dilakukan pada pasien neonatus, pasien anak dan dewasa yang terlambst didiagnosis dan pasien dengan enterokolitis berat. Kolostomi dibuat di kolon berganglion normal yang paling distal.</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Perawatan apa yang dilakukan pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Perawatan yang dilakukan pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung antara lain:</p><ul><li>Pada kasus stabil, penggunaan laksatif sebagian besar dan juga modifikasi diet dan wujud feses adalah efektif</li><li>Obat kortikosteroid dan obat anti-inflamatori digunakan dalam mega kolon toksik. Obat ini tidak memadatkan dan tidak menekan feses menggunakan tuba anorectal dan nasogastrik.</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Apa tujuan dilakukannya pemeriksaan biopsi rectal pada pasien mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Pemeriksaan biopsi rectal digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.</p><p>&nbsp;</li><li><div>Hasil apa yang didapatkan dari pemeriksaan radiologi pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Hasil yang didapatkan pada pemeriksaan radiologi adalah:</p><ul><li>Pada foto polos abdomen memperlihatkan obstruksi pada bagian distal dan dilatasi kolon proksimal</li><li>Pada foto barium enema memberikan gambaran yang sama disertai dengan adanya daerah transisi diantara segmen yang sempit pada bagian distal dengan segmen yang dilatasi pada bagian yang proksimal. Jika tidak terdapat daerah transisi, diagnosa penyakit mega kolon/penyakit hisprung ditegakkan dengan melihat perlambatan evakuasi barium karena gangguan peristaltik.</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Jelaskan tiga prosedur yang dilakukan dalam penatalaksanaan pembedahan pasien mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Tiga prosedur dalam pembedahan diantaranya:</p><ul><li><div>Prosedur duhamel</div><p>Dengan cara penarikan kolon normal ke arah bawah dan menganastomosiskannya di belakang usus aganglionik, membuat dinding ganda yaitu selubung aganglionik dan bagian posterior kolon normal yang telah ditarik</li><li><div>Prosedur swenson</div><p>Membuang bagian aganglionik kemudian menganastomosiskan end to end pada kolon yang berganglion dengan saluran anal yang dilatasi dan pemotongan sfingter dilakukan pada bagian posterior</li><li><div>Prosedur soave</div><p>Dengan cara membiarkan dinding otot dari segmen rektum tetap utuh kemudian kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus tempat dilakukannya anastomosis antara kolon normal dan jaringan otot rektosigmoid yang tersisa</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Apa penyebab penyakit mega kolon/penyakit hisprung yang terjadi pada orang dewasa?</div><p>Jawaban:</p><p>Mega kolon/penykit hisprung pada orang dewasa bisa disebabkan oleh</p><ul><li>Mengambil obat-obat tertentu</li><li>Fungsi tiroid yang abnormal</li><li>Diabetes mellitus</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Komplikasi apa yang bisa terjadi pada pasien dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Enterokolitis merupakan komplikasi parah penyakit mega kolon/penyakit hisprung  dengan angka mortalitas tinggi</p><p>&nbsp;</li><li><div>Rencana tindakan apa saja yang diberikan pada setiap kemungkinan diagnosa yang ditegakkan pada prapembedahan pasien mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Rencana tindakan yang diberikan berdasarkan diagnosanya antara lain:</p><ul><li><div>Konstipasi</div><p>Tindakannya:</p><ul><li>Monitor terhadap fungsi usus dan karakteristik feses</li><li>Berikan spoling dengan air garam fisiologis bila tidak ada kontraindikasi lain</li><li>Kolaborasi dengan dokter tentang rencana pembedahan</li></ul></li><li><div>Kurang volume cairan dan elektrolit</div><p>Tindakannya:</p><ul><li>Lakukan monitor terhadap status hidrasi dengan cara mengukur asupan dan keluaran cairan tubuh</li><li>Observasi membran mukosa, turgor kulit, produksi urine, dan status cairan</li><li>Kolaborasi dalam pemberian cairan sesuai dengan indikasi</li></ul></li><li><div>Gangguan kebutuhan nutrisi</div><p>Tindakannya:</p><ul><li>Monitor perubahan status nutrisi antara lain turgor kulit, asupan</li><li>Lakukan pemberian nutrisi parenteral apabila secara oral tidak memungkinkan</li><li>Timbang berat badan setiap hari</li><li>Lakukan pemberian nutrisi dengan tinggi kalori, dan tinggi protein</li></ul></li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Diagnosis apa yang bisa ditegakkan pada pasien pasca pembedahan dengan mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Diagnosa yang dapat ditegakkan pasca pembedahan antara lain:</p><ul><li>Nyeri</li><li>Risiko infeksi</li><li>Risiko komplikasi pasca pembedahan</li></ul><p>&nbsp;</li><li><div>Apa tujuan pemeriksaan manometri anorectal pada pasien mega kolon/penyakit hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Pemeriksaan manometri anorectal digunakan untuk mencatat respon refluks sfingter internal dan eksternal</p><p>&nbsp;</li><li><div>Mengapa nyeri bisa terjadi pada pasca pembedahan pasien mega kolon/hisprung?</div><p>Jawaban:</p><p>Nyeri bisa terjadi pada pasca pembedahan dikarenakan efek dari insisi, hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya tanda nyeri seperti ekspresi perasaan nyeri, perubahan tanda vital, pembatasan aktivitas.</p><p>&nbsp;</li><li><div>Apa yang harus dilakukan apabila mega kolon/hisprung terjadi pada bayi yang berumur 6-12 bulan?</div><p>Jawaban:</p><p>Bila umur bayi antar 6-12 bulan, dilakukan dengan cara memotong usus aganglionik dan menganastomisikan usus yang berganglion ke rectum dengan jarak 1 cm dari anus.</p><p>&nbsp;</li><li><div>Apa yang dimaksud dengan mega kolon/penyakit hisprung segmen panjang dan mega kolon/penyakit hisprung segmen pendek?</div><p>Jawaban:</p><p>Yang dimaksud dengan mega kolon/penyakit hisprung segmen panjang apabila segmen aganglionosis melebihi sigmoid sampai seluruh kolon.</p><p>Sedangkan yang dimaksud dengan mega kolon/penyakit hisprung segmen pendek apabila segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid.</p><p>&nbsp;</li></ul><p
style="text-align: center;"><span
style="font-size: 14pt;"><strong>DAFTAR PUSTAKA<br
/> </strong></span></p><p>&nbsp;</p><p>Dudley, Hugh A. F (Ed). 1992. <em>Ilmu Bedah Gawat Darurat</em>. Yogyakarta: UGM.</p><p>Isselbacher, dkk. 2000. <em>Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam</em>. Jakarta:EGC.</p><p>Rudolph, Abraham M.,dkk. <em>Buku Ajar Pediatri Rudolph</em>. Jakarta: EGC.</p><p>Sabiston. 1994. <em>Buku Ajar Bedah</em>. Jakarta: EGC.</p><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/pertanyaan-tentang-penyakit-mega-kolonpenyakit-hisprung/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>PIOTORAKS (EPIEMA TORAKS)</title><link>http://dokteryudabedah.com/piotoraks-epiema-toraks/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/piotoraks-epiema-toraks/#comments</comments> <pubDate>Mon, 07 Mar 2011 23:08:18 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[diagnosis piotoraks]]></category> <category><![CDATA[gejala klinis piotorak]]></category> <category><![CDATA[piotoraks]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=328</guid> <description><![CDATA[Kriteria diagnosis Piotoraks Secara klinis piotoraks merupakan terkumpulnya pus didalam rongga pleura dan hal ini disebabkan oleh infeksi. Tanda dan gejala klinis berupa : Pada inspeksi gerakan dinding toraks sisi yang bersangkutan tertinggal, pada perkusi redup, pada auskultasi suara nafas menurun, pada punksi pleura keluar pus yang encer atau kental. Diagnosis banding Kilotoraks Efusi Pleural <a
href="http://dokteryudabedah.com/piotoraks-epiema-toraks/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kriteria diagnosis Piotoraks</strong></p><p>Secara klinis piotoraks merupakan terkumpulnya pus didalam rongga pleura dan hal ini disebabkan oleh infeksi.</p><p><strong>Tanda dan gejala klinis berupa :</strong></p><p>Pada inspeksi gerakan dinding toraks sisi yang bersangkutan tertinggal, pada perkusi redup, pada auskultasi suara nafas menurun, pada punksi pleura keluar pus yang encer atau kental.</p><p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/toraks.jpg"><img
class="alignnone size-full wp-image-329" title="toraks" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/03/toraks.jpg" alt="" width="391" height="342" /></a></p><p><strong>Diagnosis banding Kilotoraks</strong></p><p>Efusi Pleural karena penyebab lain, seperti metastasis karsinoma.</p><p><strong>Pemeriksaan penunjang</strong></p><ul><li>Laboratorium : Dilakukan pemeriksaan DL, LFT dan RFT untuk keperluan evaluasi klinis.</li><li>Mikrobiologi    : Tes Rivalta, tes kultur dan tes kepekaan kuman, pemeriksaan gram caira pleura dan BTA sputum.</li><li>Radiology          : Foto polos toraks.</li></ul><p><strong>Terapi</strong></p><ul><li>Non bedah  :   Obat-obatan antibiotika, analgetika, antipiretika dan fisioterapi nafas.</li><li>Bedah            :   Ada 4 prinsip dasar</li></ul><ol><li>Drainase pus secepat dan sekuat mungkin. (bila pus encer bisa melalui puksi atau bila pus kental langsung memasang pipa toraks)</li><li>Mengembangkan paru seoptimal mungkin (&gt; 50 %)</li><li>Mengurangi <em>dead space</em> (&lt; 50 %)</li><li>Memberantas atau eradikasi infeksi</li><li>Membuat <em>window &#8211; thoracostomy</em></li></ol><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/piotoraks-epiema-toraks/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>CTEV (Congenital talipes equino varus)</title><link>http://dokteryudabedah.com/ctev-congenital-talipes-equino-varus/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/ctev-congenital-talipes-equino-varus/#comments</comments> <pubDate>Fri, 25 Feb 2011 00:45:13 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Umum]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/ctev-congenital-talipes-equino-varus/</guid> <description><![CDATA[Apa pengertian CTEV (congenital talipes equino varus)? Jawab: CTEV/ Club Foot adalah deformitas yang meliputi fleksi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki depan, dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery, Schwartz). Apa penyebab terjadinya penyakit ini? Jawab: Penyebab terjadinya penyakit ini tidak sepenuhnya diketahui. Terdapat beberapa teori tentang penyebabnya, antara lain <a
href="http://dokteryudabedah.com/ctev-congenital-talipes-equino-varus/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<ol><li><div><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Apa pengertian CTEV (congenital talipes equino varus)?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: CTEV/ Club Foot adalah deformitas yang meliputi fleksi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki depan, dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery, Schwartz).<br
/> </span></p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Apa penyebab terjadinya penyakit ini?<br
/> </span></div></li></ol><p
style="text-align: justify">Jawab: Penyebab terjadinya penyakit ini tidak sepenuhnya diketahui. Terdapat beberapa teori tentang penyebabnya, antara lain :</p><ul
style="margin-left: 70pt"><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Sindrom Edward, yang merupakan kelainan genetic pada kromosom nomer 18<br
/> </span></div></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pengaruh luar seperti penekanan pada saat bayi masih didalam kandungan dikarenakan sedikitnya cairan ketuban (oligohidramnion)<br
/> </span></div></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Dapat dijumpai bersamaan dengan kelainan bawaan yang lain seperti spina bifida<br
/> </span></div></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Penggunaan ekstasi oleh ibu saat sedang mengandung.<br
/> </span></div></li></ul><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Sebutkan gejala klinisnya?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: <em>positional equinovarus</em>, yaitu terpuntirnya kaki kearah dalam karena posisi bayi pada saat didalam kandungan.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Apa penanganan yang tepat untuk penyakit ini?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: koreksi kelainan yang ada secara pasif, mempertahankannya dalam jangka waktu yang lama, dan mengamati perkembangan anak tersebut hingga akhir usia pertumbuhan, bayi yang lahir dengan <em>club foot</em> sebaiknya menggunakan gips pada kakinya.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Sebutkan diagnosa apa yang tepat untuk penyakit ini?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: Kelainan ini mudah didiagnosis, dan biasanya terlihat nyata pada waktu lahir (early diagnosis after birth). Pada bayi yang normal dengan equinovarus postural, kaki dapat mengalami dorsifleksi dan eversi hingga jari-jari kaki menyentuh bagian depan tibia. &#8220;Passive manipulation dorsiflexion ? Toe touching tibia ? normal&#8221;.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Apa kemungkinan komplikasi yang akan terjadi pada penyakit ini?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: keadaan ini sering tidak sembuh sempurna dan sering kambuh, terutama pada bayi dengan kelumpuhan otot yang nyata atau disertai penyakit neuromuskuler.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jelaskan penatalaksanaanya yang tepat untuk penyakit ini?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab:<br
/> </span></p><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>1. Non-Operative :</strong> Serial Plastering (manipulasi pemasangan gibs serial yang diganti tiap minggu, selama 6-12 minggu). Setelah itu dialakukan koreksi dengan menggunakan sepatu khusus, sampai anak berumur 16 tahun.<br/><br/><strong>2.Operative</strong><br/>Indikasi dilakukan operasi adalah sebagai berikut :<br
/> </span></p></li></ol><ul
style="margin-left: 90pt"><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jika terapi dengan gibs gagal (If palstering fail)<br
/> </span></div></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pada kasus Rigid club foot pada umur 3-9 bulan<br/>Operasi dilakaukan dengan melepasakan karingan lunak yang mengalami kontraktur maupun dengan osteotomy. Osteotomy biasanya dilakukan pada kasus club foot yang neglected/ tidak ditangani dengan tepat.<br/>Kasus yang resisten paling baik dioperasi pada umur 8 minggu, tindakan ini dimulai dengan pemanjangan tendo Achiles ; kalau masih ada equinus, dilakuakan posterior release dengan memisahkan seluruh lebar kapsul pergelangan kaki posterior, dan kalau perlu, kapsul talokalkaneus. Varus kemudian diperbaiki dengan melakukan release talonavikularis medial dan pemanjangan tendon tibialis posterior.(Ini Menurut BuKu Appley).<br/>Pada umur &gt; 5 tahun dilakukan <strong>bone procedure osteotomy</strong>. Diatas umur 10 tahun atau kalau tulang kaki sudah mature, dilakukan tindakan <strong>artrodesis triple </strong>yang terdiri atas reseksi dan koreksi letak pada tiga persendian, yaitu : <em>art. talokalkaneus, art. talonavikularis, dan art. kalkaneokuboid</em>.<br
/> </span></li></ul><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Penyakit CTEV kebanyakan diderita oleh?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: bayi baru lahir<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Nama lain dari congenital talipus equino varus (CTEV) adalah?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: club foot atau kaki bengkok.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Denis Browne </em>adalah alat untuk?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: bayi lahir dengan congenital talipus equino varus (CTEV) yang sudah berumur lebih dari 1 minggu.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jika terapi dengan gibs gagal maka terapi apa yang tepat untuk menggantikanya pada bayi umur 3-9?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: dapat dilakukan operasi.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"> Pengaruh luar seperti penekanan pada saat bayi masih didalam kandungan apakah bisa menyebabkan terjadinya penyakit congenital talipus equino varus (CTEV)?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: bisa, dikarenakan sedikitnya cairan ketuban (oligohidramnion) yang akan menyebabkan terdesaknya bayi.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Apakah pengaruh kesehatan ibu dapat memacu timbulnya penyakit congenital talipus equino varus (CTEV)?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: bisa, jika Penggunaan ekstasi oleh ibu saat sedang mengandung.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><br
/> <em>straight boots</em> adalah alat untuk?<br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: pada bayi dengan penyakit congenital talipus equino varus (CTEV) yang sudah berusia lebih dari 3 bulan sampai usia 3 tahun.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Sebutkan insidensi dari penyakit congenital talipus equino varus (CTEV)?<br
/> </span></div><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab:<br
/> </span></p><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Insidensi adalah sekitar 1 dari 1000 kelahiran<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pria &gt; Wanita, dengan 65% kasus terjadi pada pria<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pada 30-40% kasus terjadi bilateral<br
/> </span></li></ol></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Sebutkan klasifikasi penyakit congenital talipus equino varus (CTEV)?<br
/> </span></div><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab:<br
/> </span></p><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"> Postural Club foot<br
/> </span></li><li><div><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"> Congenital Club foot :<br
/> </span></div><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Simple<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Rigid pada kasus yang rigid, perlu tindakan operasi.<br
/> </span></li></ol></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Syndromic Club foot associated with :<br/>@ Artrogryposis Multiplex Congenital atau amioplasia ? suatu kelainan kongenital yang berkaitan dengan penggantian otot dengan jaringan fibrosa pada saat lahir, sehingga mengakibatkan hilangnya mobilitas sendi, dan berkaitan dengan deformitas seperti misalnya CHD, talipes equinovarus, dislokasi lutut.<br/>@ Myelomeningocel. Pada kasus ini terjadi imbalance otot sehingga terjadi club foot tipe rigid.<br
/> </span></li></ol></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify">  </div><p
style="text-align: justify">  </p><p
style="text-align: justify"><img
src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/02/022511_0044_CTEVCongeni1.png" alt=""/><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><br
/> </span></p><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">ini adalah gambar dari bayi yang menderita…?<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: bayi dengan penyakit congenital talipus equino varus (CTEV).<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt">  </p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt">  </p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt">  </p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt"><img
src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/02/022511_0044_CTEVCongeni2.png" alt=""/><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><br
/> </span></p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">ini adalah gambar dari alat…?<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify; margin-left: 36pt"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Jawab: <strong>Boot Splint </strong>alat bagi penderita congenital talipus equino varus.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Fore Foot Adduction adalah:</strong><br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Jawab: </strong>kaki depan mengalami adduksi dan supinasi.<br
/> </span></p></li></ol><p
style="text-align: justify">  </p><ol><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><br
/> <strong>Equinus ankle adalah:</strong><br
/> </span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Jawab: </strong>pergelangan kaki dalam keadaan equinus = dalam keadaan plantar fleksi.<br
/> </span></p><p
style="text-align: justify">  </p><p
style="text-align: justify">  </p><p
style="text-align: justify">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center">  </p><p
style="text-align: center"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong><br
/> </strong></span> </p></li></ol><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/ctev-congenital-talipes-equino-varus/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Cedera atau Trauma Kepala</title><link>http://dokteryudabedah.com/cedera-atau-trauma-kepala/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/cedera-atau-trauma-kepala/#comments</comments> <pubDate>Mon, 07 Feb 2011 21:54:11 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/cedera-atau-trauma-kepala/</guid> <description><![CDATA[  Apakah yang dimaksud dengan cedera/ trauma kepala? Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan lalu lintas. Resiko utama <a
href="http://dokteryudabedah.com/cedera-atau-trauma-kepala/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>  </p><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Apakah yang dimaksud dengan cedera/ trauma kepala?<br
/> </strong></span></li></ol><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><span
style="color:black">Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. </span>Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan lalu lintas. Resiko utama klien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.<br
/> </span></p><p><img
src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/02/020711_2153_CederaatauT1.jpg" alt=""/><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><br
/> </span></p><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Pertolongan pertama pada cedera kepala apa saja yang dilakukan?<br
/> </strong></span></li></ol><ul
style="margin-left: 40pt"><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Menghentikan pendarahan<br
/> </span></li></ul><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pendarahan dari kulit kepala biasanya banyak karena pembuluh darah berda di dalam jaringna ikat padat sehingga sukar mencukup. Pendarahan dapat dihentikan dengan memberikan tekanan pada tempat yang rendah sehingga pembulu-pembuluh darah tertutup, kepala dapat dibalut dengan ikatan yang kuat.<br
/> </span></p><ul
style="margin-left: 40pt"><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Usahakan pernafasan yang lapang beri napas buatan bila berhenti<br
/> </span></li></ul><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Bersihkan mulut dengan hidung dari muntah atau darah bila ada. Keluarkan protesis gigi, kendorkan ikat pinggang, bila perlu hisap lendir dengan alat peng hisap. Miringkan kepala supaya lidah tidak menghalangi faring. Bila pasien muntah letakan seluruh badan pasien dalam sikap miring dan berikan O<sub>2.</sub><br
/> </span></p><ul
style="margin-left: 40pt"><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Fisasi leher<br
/> </span></li></ul><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pada tiap kasus cedera kepala kulumna vetebralis servikalis harus diperiksa dengan teliti, bila perlu foto rontgen. Bila diperkirakan kemungkinan adanya fraktur, leher harus difiksasi dengan kerah fiksasi leher.<br
/> </span></p><ul
style="margin-left: 40pt"><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Fiksasi tulang yang patah<br
/> </span></li></ul><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Tulang patah akan menimbulkan rasa nyeri pada pergerakan, karna itu harus difiksasi.<br
/> </span></p><ul
style="margin-left: 40pt"><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pemerikasan bagian badan yang lain<strong><br
/> </strong></span></li></ul><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis trauma/ cedera kepala?<br
/> </strong></span></li></ol><ol><li><div>Cedera kulit kepala. Cedera pada bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, kulit kepala berdarah bila cedera dalam. Luka kulit kepala maupun tempat masuknya infeksi intrakranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi, kontusio, laserasi atau avulsi.</div><ol><li>Fraktur tengkorak. Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak di sebabkan oleh trauma. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka dan tertutup. Bila fraktur terbuka maka dura rusak dan fraktur tertutup keadaan dura tidak rusak.</li><li>Cedera otak. Cedera otak serius dapat tejadi dengan atau tanpa fraktur tengkorak, setelah pukulan atau cedera pada kepala yang menimbulkan kontusio, laserasi dan hemoragi otak. Kerusakan tidak dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang mengalir berhenti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat mengalami regenerasi.</li><li>Komosio. Komosio umumnya meliputi sebuah periode tidak sadarkan diri dalam waktu yang berakhir selama beberapa detik sampai beberapa menit. Komosio dipertimbangkan sebagai cedera kepala minor dan dianggap tanpa sekuele yang berarti. Pada pasien dengan komosio sering ada gangguan dan kadang efek residu dengan mencakup kurang perhatian, kesulitan memori dan gangguan dalam kebiasaan kerja.</li><li>Kontusio. Kontusio serebral merupakan didera kepala berat, dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah haemoragi. Pasien tidak sadarkan dari, pasien terbaring dan kehilangan gerakkan, denyut nadi lemah, pernafsan dangkal, kulit dingin dan pucat, sering defekasi dan berkemih tanpa di sadari.</li><li>Haemoragi intrakranial. Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam kubah kranial adalah akibat paling serius dari cedera kepala, efek utama adalah seringkali lambat sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi otak serta peningkatan tik.</li><li>Hematoma epidural (hamatoma ekstradural atau haemoragi). Setelah cedera kepala, darah berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) diantara tengkorak dan dura. Keadaan ini karena fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan arteri meningeal tengah putus /rusak (laserasi), dimana arteri ini berada di dura dan tengkorak daerah inferior menuju bagian tipis tulang temporal; haemoragi karena arteri ini menyebabkan penekanan pada otak.</li><li>Hematoma sub dural. Hematoma sub dural adalah pengumpulan darah diantara dura dan dasar, suatu ruang yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Hematoma sub dural dapat terjadi akut, sub akut atau kronik. Tergantung ukuran pembuluh darah yang terkena dan jumlah perdarahan yang ada. Hematoma sub dural akut d hubungkan dengan cedera kepala mayor yang meliputi kontusio dan laserasi. Sedangkan hematoma sub dural sub akut adalah sekuele kontusio sedikit berat dan di curigai pada pasien gangguan gagal meningkatkan kesadaran setelah trauma kepala. Dan hematoma sub dural kronik dapat terjadi karena cedera kepala minor dan terjadi paling sering pada lansia.</li><li>Haemoragi intraserebral dan hematoma. Hemoragi intraserebral adalah perdaraan ke dalam substansi otak. Haemoragi ini biasanya terjadi pada cedera kepala dimana tekanan mendesak ke kepala sampai daerah kecil (cedera peluru atau luka tembak; cedera kumpil).</li></ol><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Apa yang anada ketahui tentang Patofisiologi terhadap cedera kepala?<br
/> </strong></span></li></ol></li></ol><p>Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.</p><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Cedera primer</strong>, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (tik). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi. Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala &#8220;fokal&#8221; dan &#8220;menyebar&#8221; sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.<br
/> </span></p><ol><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Apakah ada hubungannya cedera/ trauma kepala dengan terjadinya fraktur tulang wajah? Jelaskan.<br
/> </strong></span></li></ol><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Ada, karena sinus-sinus tulang dapat pula mengalami cedera. Bila terjadi deformasi<br
/> </span></p><p><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">sisnus, pasien mungkin memerlukan operasi untuk restorasi. Lubang sinus yang tersumbat perlu dibuka supaya secret lender normal dapat mengalir ke dalam rongga hidung. Fraktur mandibula dapat mengalami ramus, korpus maupun kolum mandibulae. Karena mandibula dapat bergerak, maka pada fraktur mandibula tulang ini perlu difiksasi. Pendarahan di dalam orbita dapat menyebakan eksoftalmus. Pendarahan ini akan mencair dan terserap di dalam waktu beberpa minggu. Pendarahan sering pula terjadi di dalam liang telinga luar. Pendarahan kecil biasanya akan berhenti dengan sendirinya.<br
/> </span></p><ol><li><div><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Cedera kepala diklasifikasikan menjadi dua bagain sebutkan dan jelaskan?<br
/> </strong></span></div><ol><li>Cedera kepala terbuka</li></ol></li></ol><p>Luka terbuka pada lapisan-lapisan galea tulang tempurung kepala duramater disertai cedera jaringan otak karena impressi fractura berat. Akibatnya, dapat menyebabkan infeksi di jaringan otak. Untuk pencegahan, perlu operasi dengan segera menjauhkan pecahan tulang dan tindakan seterusnya secara bertahap.</p><ol><li>Cedera kepala tertutup</li></ol><p>Pada tulang kepala, termasuk di antaranya selaput otak, terjadi keretakan-keretakan. Dalam keadaan seperti ini, timbul garis/linea fractura sedemikian rupa sehingga menyebabkan luka pada daerah periferia a. meningia media, yang menyebabkan perdarahan arteri. Haematoma dengan cepat membesar dan gambaran klinik juga cepat merembet, sehingga tidak kurang dari 1 jam terbentuk <em>haematomaepiduralis</em>. Penentuan diagnosis sangat berarti <em>lucidum intervalum</em> (mengigat waktu yang jitu dan tepat). Jadi, pada epiduralis haematoma, sebenarnya jaringan otak tidak rusak, hanya tertekan (depresi). Dengan tindakan yang cepat dan tepat, mungkin pasien dapat ditolong. Paling sering terdapat di daerah temporal, yaitu karena pecahnya pembulnh darah kecil/perifer cabang-cabang a. meningia media akibat fractura tulang kepala daerah itu (75% pada Fr. Capitis).</p><ol><li><strong>Dimanakah letak Fractura Basis Cranii dan tanda gejala gejala yang dialami?<br
/> </strong></li></ol><p>Fractura ini dapat terletak di depan, tengah, atau di belakang. Gejala fractura di depan:</p><ol><li>Rhino liquore disertai lesi di sinus-frontalis pada ethmoidal, spenoidal, dan arachnoidal.</li><li>Pneunoencephalon, karena pada fractura basis cranii udara dari sinus maksilaris masuk ke lapisan selaput otak encepalon.</li><li>Monokli haematoma, adalah haematoma pada biji mata, karena pada orbita mata dan biji lensa mata memberi gejala pendarahan intracranialis pula.</li></ol><p>    Fractura bagian tengah basis cranii antara lain memberi gejala khas menetesnya cairan otak bercampur darah dari telinga: otoliquor, melalui tuba eustachii. Gambaran rontgen sebagai tanda khas pada fractura basis cranii selalu hanya memperlihatkan sebagian. Karena itu, dokter-dokter ahli forensik selalu menerima kalau hanya ada satu tanda-tanda klinik</p><p
style="margin-left: 18pt"><strong>8.     Pemeriksaan radiologis dengan  menggunakan Sken tomografik terkomputerisasi (SST) dapat melihat Lesi traumatic<br
/> </strong></p><p
style="margin-left: 18pt"><strong>a. Epiduralis Haematoma<br
/> </strong></p><p>Pada frontal, parietal, <em>occipital</em> dan fossa posterior, sin. transversus. Foto rontgen kepala sangat berguna, tetapi yang lebih penting adalah pengawasan terhadap pasien. Saat ini, diagnosis yang cepat dan tepat ialah CT scan atau Angiografi. Kadangkala kita sangat terpaksa melakukan <em>&#8220;Burr hole Trepanasi&#8221;,</em> karena dicurigai akan terjadi epiduralis haematoina. Dengan ini sekaligus bisa didiagnosis dan dekompresi, sebab terapi untuk epiduralis haematoma adalah suatu kejadian yang gawat dan harus segera ditangani.</p><p><strong>b. Subduralis Haematoma Akut<br
/> </strong></p><p>Kejadian akut haematoma di antara durameter dan corteks, dimana pembuluh darah kecil sinus vena pecah atau terjadi perdarahan. Atau jembatan vena bagian atas pada interval yang akibat tekanan lalu terjadi perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat, karena tekanan jaringan otak sehingga darah cepat tertuangkan dan memenuhi rongga antara durameter dan corteks. Kejadian dengan cepat memberi tanda-tanda meningginya tekanan dalam jaringan otak (TIK = Tekanan Intra Kranial). Pada kejadian akut haematoma, lucidum intervalum akan terasa setelah beberapa jam sampai 1 atau 2 hari. Tanda-tanda neurologis-klinis di sini jarang memberi gejala epileptiform pada perdarahan dasar duramater. Akut hematoma subduralis pada trauma kapitis dapat juga terjadi tanpa Fractura Cranii, namun pembuluh darah arteri dan vena di corteks terluka. Pasien segera pingsan/ koma. Jadi, di sini tidak ada <em>&#8220;free interval time&#8221;</em>. Kadang-kadang pembuluh darah besar seperti arteri dan sinus dapat juga terluka. Dalam kasus ini sering dijumpai kombinasi dengan intracerebral haematoma sehingga mortalitas subdural haematoma akut sangat tinggi (80%).</p><p><strong>    c. Subrachnoidalis Haematoma<br
/> </strong></p><p>Kejadiannya karena perdarahan pada pembuluh darah otak, yaitu perdarahan pada permukaan dalam duramater. Bentuk paling sering dan berarti pada praktik sehari-hari adalah perdarahan pada permukaan dasar jaringan otak, karena bawaan lahir <em>aneurysna</em><br
/> <span
style="text-decoration:underline">&#8220;pelebaran pembuluh darah&#8221;</span>. Ini sering menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Gambaran klinik tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit tetapi terjadi gangguan ingatan karena timbulnya gangguan meningeal. Akut Intracerebralis Haematoma terjadi karena pukulan benda tumpul di daerah korteks dan subkorteks yang mengakibatkan pecahnya vena yang besar atau arteri pada jaringan otak. Paling sering terjadi dalam subkorteks. Selaput otak menjadi pecah pula karena tekanan pada durameter bagian bawah melebar sehingga terjadilah &#8220;subduralis haematoma&#8221;, disertai gejala kliniknya.</p><p><strong>    d. Contusio Cerebri<br
/> </strong></p><p> Di antara yang paling sering adalah bagian yang berlawanan dengan tipe centralis &#8211; kelumpuhan N. Facialis atau N. Hypoglossus, atau kelumpuhan syaraf-syaraf otak, gangguan bicara, yang tergantung pada lokalisasi kejadian cedera kepala. Contusio pada kepala adalah bentuk paling berat, disertai dengan gegar otak encephalon dengan timbulnya tanda-tanda koma, sindrom gegar otak pusat encephalon dengan tanda-tanda gangguan pernapasan, gangguan sirkulasi paru-jantung yang mulai dengan bradikardia, kemudian takikardia, meningginya suhu badan, muka merah, keringat profus, serta kekejangan tengkuk yang tidak dapat dikendalikan (decebracio <em>rigiditas</em>).<strong><br
/> </strong></p><p><strong>9.Apa yang kemungknan dapat terjadi setelah mengalami trauma kapisitis?<br
/> </strong></p><ol
style="margin-left: 72pt"><li>Pasien sembuh total. EEG normal</li><li>Pasien sembuh tampa keluhan. EEG tidak normal</li><li>Pasien tidak menunjukan kelainan tetapi mengeluh sering nyeri kepala, vertigo, sukar kosentrasi, sukar berpikir, susah tidur. EEG dapat normal atau menunjuka kelainan. Pada sebagaian klien mengalami keluhan-keluahan yang ditemukan higroma.</li><li>Sembuh dengan cacat badan, EEG dapat normal atau menunukan kelainan-kelainan.</li><li>Sembuh tetapi menderita serangan-serangan epilepsy.</li><li>Sembuh dengan cacat mental.</li><li>Pasien tidak sembuh dan berada dalam keadaan vegetative</li><li>Pasien tidak sembuh dan berada dalam keadaan koma prolongtum.</li><li>Pasien meninggal.</li></ol><ol><li><div><strong>Sebutkan Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan oleh klien yang mengalmi cedera kepala<br
/> </strong></div><ol><li><div>Spinal X ray</div><p>Membantu menentukan lokasi terjadinya trauma dan efek yang terjadi (perdarahan atau ruptur atau fraktur).</p></li><li><div>CT Scan</div><p>Memeperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti.</p></li><li><div>Myelogram</div><p>Dilakukan untuk menunjukan vertebrae dan adanya bendungan dari spinal aracknoid jika dicurigai.</p></li><li><div>MRI (Magnetic Imaging Resonance)</div><p>Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak.</p></li><li><div>Thorax X ray</div><p>Untuk mengidentifikasi keadaan pulmo.</p></li><li><div>Pemeriksaan fungsi pernafasan</div><p>Mengukur volume maksimal dari inspirasi dan ekspirasi yang penting diketahui bagi penderita dengan cedera kepala dan pusat pernafasan (medulla oblongata).</p></li><li><div>Analisa Gas Darah</div><p>Menunjukan efektifitas dari pertukaran gas dan usaha pernafasan</p></li></ol></li></ol><ol><li><div><strong>Pengobatan apa saja yang dapat didapatkan selama mengalami cedera kepala?<br
/> </strong></div><p>Penderita trauma saraf spinal akut yang diterapi dengan <strong>metilprednisolon</strong> (bolus 30 mg/kg berat badan dilanjutkan dengan infus 5,4 mg/kg berat badan per jam selama 23 jam), akan menunjukkan perbaikan keadaan neurologis bila preparat itu diberikan dalam waktu paling lama 8 jam setelah kejadian (<em>golden hour</em>). Pemberian <strong>nalokson</strong> (bolus 5,4 mg/kg berat badan dilanjutkan dengan 4,0 mg/kg berat badan per jam selama 23 jam) tidak memberikan perbaikan keadaan neurologis pada penderita trauma saraf spinal akut. Metilprednisolon yang diberikan secara dini dan dalam dosis yang akurat, dapat memperbaiki keadaan neurologis akibat efek inhibisi terjadinya reaksi peroksidasi lipid. Dengan kata lain, metilprednisolon bekerja dengan cara:</p></li></ol><ul><li>Menyusup masuk ke lapisan lipid untuk melindungi fosfolipid dan komponen membran lain dari kerusakan.</li><li>Mempertahankan kestabilan dan keutuhan membran.</li><li>Mencegah perembetan kerusakan sel-sel lain di dekatnya.</li><li>Mencegah berlanjutnya iskemia pascatrauma.</li><li>Memutarbalikkan proses akumulasi kalsiun intraseluler.</li><li>Menghambat pelepasan asam arakhidonat.</li></ul><ol><li><div><span
style="color:black"><strong>Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi menjadi 2, sebutkan?<br
/> </strong></span></div><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black">1. Cedera kepala tumpul; biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas, jatuh atau pukulan benda tumpul. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan deselerasi yang cepat menyebabkan otak bergerak di dalam rongga cranial dan melakukan kontak pada protuberans tulang tengkorak.</span></p><p><span
style="color:black">2. Cedera tembus; disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan.</span></p><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black"><strong>13.  Berdasarkan morfologinya cedera kepala, apa saja yang anda ketahui?<br
/> </strong></span></p><p><span
style="color:black">1. Fraktur tengkorak; Fraktur tengkorak dapat terjadi pada atap dan dasar tengkorak. Fraktur dapat berupa garis/ linear, mutlipel dan menyebar dari satu titik (stelata) dan membentuk fragmen-fragmen tulang (kominutif). Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur tertutup yang secara normal tidak memerlukan perlakuan spesifik dan fraktur tertutup yang memerlukan perlakuan untuk memperbaiki tulang tengkorak.</span></p><p><span
style="color:black">2. Lesi intrakranial; dapat berbentuk lesi fokal (perdarahan epidural, perdarahan subdural, kontusio, dan peradarahan intraserebral), lesi difus dan terjadi secara bersamaan</span>. <span
style="color:black">Secara umum untuk mendeskripsikan beratnya penderita cedera kepala digunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik, respon verbal dan buka mata, dengan interval. </span></p></li><li><strong>Komplikasi apa saja yang dirasakan oleh orang yang mengalami tauma kepala?<br
/> </strong></li></ol><ul><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Koma</strong> . Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut coma. Pada situasi ini, secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah masa ini penderita akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainya memasuki vegetative state atau mati penderita pada masa vegetative statesering membuka matanya dan mengerakkannya, menjerit atau menjukan respon reflek. Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Penderita pada masa vegetative state lebih dari satu tahun jarang sembuh.<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Seizure. </strong> Pederita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang-kurangnya sekali seizure pada masa minggu pertama setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini berkembang menjadi epilepsy.<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Infeksi.</strong> Faktur tengkorak atau luka terbuka dapat merobekan membran (meningen) sehingga kuman dapat masuk. Infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena keadaan ini memiliki potensial untuk menyebar ke sistem saraf yang lain<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Kerusakan saraf. </strong> Cedera pada basis tengkorak dapat menyebabkan kerusakan pada nervus facialis. Sehingga terjadi paralysis dari otot-otot facialis atau kerusakan dari saraf untuk pergerakan bola mata yang menyebabkan terjadinya penglihatan ganda .<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Hilangnya kemampuan kognitif. </strong> Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi dan memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera kepala berat mengalami masalah kesadaran.<br
/> </span></li><li><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><strong>Penyakit Alzheimer dan Parkinson. </strong> Pada kasus cedera kapala resiko perkembangan terjadinya penyakit alzheimer tinggi dan sedikit terjadi parkinson. Resiko akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan keparahan cedera.<br
/> </span></li></ul><ol><li><div><strong>Penatalaksanaan apa saja yang anda ketahui selama cedera kepala?</strong></div><ol><li><strong>Breathing</strong></li></ol><p>Pada pasien dengan trauma kepala perlu dilakukan usaha pembebasan jalan nafas dan menjamin ventilasi yuang baik di paru-paru dengan membaringkan pasien pada posisi miring untuk menghindari aspirasi akibat muntah. Selain itu juga perlu tindakan penghisapan lendir, muntah atau darah dari jalan nafas. Pemberian oksigen sebagai terapi perlu dievaluasi dengan pemeriksaan analisa gas darah dan diusahakan P O2 &gt; 80 mmHg, P CO2 tidak lebih dari 30 mmHg, dengan tujuan untuk mencegah vasokonstriksi pembuluh darah otak. Pemasangan pipa endotrakheal dapat juga dilakukan. Tracheostomi terutama bila terjadi perdarahan pada jalan nafas bagian atas, fraktur tulang muka atau trauma toraks.</p><ol
style="margin-left: 72pt"><li><strong>Blood</strong></li></ol><p>Mencakup pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium darah (Hb,Leukosit). Pada kontusio cerebri 3-5 hari pertama terjadi ketidakseimbangan air dan natrium, di mana retensi air melebihi natrium, sehingga terjadi hiponatremi relatif. Karena itu kemungkinan over dehidrasi, dehidrasi, intoksikasi air perlu dipertimbangkan.</p><ol
style="margin-left: 72pt"><li><strong>Brain</strong></li></ol><p>Penilaian GCS, dan bila menunjukan adanya perburukan perlu pemeriksaan mendalam mengenai keadaan pupil (ukuran, bentuk, dan reaksi terhadap cahaya) serta gerakan- gerakan bola mata. Udema cerebri dapat dicegah dengan membebaskan jalan nafas, pembatasan jalan nafas, hipotermia, pemberian obat anti udema. Obat-obat anti udema biasanya : manitol, diberikan melalui infus, gliserol diberikan per infus/oral, kadang-kadang dapat menimbulkan hemolisis intravaskuler bila diberikan melebihi 30 tetes/menit. Kortikosteroid, preparat yang umum dipakai adalah Dexametason dan Metil Prednisolon.</p><ol
style="margin-left: 72pt"><li><strong>Bladder</strong></li></ol><p>Kandung kemih perlu selalu dikosongkan karena kandung kemih yang penuh merupakan suatu rangsangan untuk mengeden sehingga tekanan intrakranial cenderung lebih meningkat.</p><ol
style="margin-left: 72pt"><li><strong>Bowel</strong></li></ol><p>Usus yang penuh cenderung akan meningkatkan tekanan intrakranial. Makanan diberikan sesudah 48 jam, kalau pasien belum sadar beri makanan melalui sonde. Jumlah makanan disesuaikan dengan cairan, elektrolit dan kalori yang dibutuhkan</p></li><li><div><strong> Macam-macam Terapi yang dapat dilakukan pada cedera kepala?</strong></div><p
style="margin-left: 18pt"><strong>     Farmakologi</strong><br/>Cairan intravena : pertahankan status cairan euvolemik, hindari dehidrasi, jangan menggunakan cairan hipotonis / glukosa<br/>Hiperventilasi fase akut (option): pada peningkatan tekanan intrakranial pertahankan PaCO2 pada 25-30 mmHg, hindari Pa CO2&lt; 25 mmHg (vasokonstriksi).<br/>Terapi hiperosmoler -manitol (guideline): Merupakan osmosis diuretis. Efek ekspansi plasma, menghasilkan gradient osmotik dalam waktu yang cepat dalam beberapa menit. Memberikan efek optimalisasi reologi dengan menurunkan hematokrit, menurunkan viskositas darah, meningkatkan aliran darah serebral, meningkatkan mikrosirkulasi dan tekanan perfusi serebral yang akan meningkatkan penghantaran oksigen dengan efek samping reboun peningkatan tekanan intrakranial pada disfungsi sawar darah otak terjadi skuestrasi serebral, overload cairan, hiponatremi dilusi, takipilaksis dan gagal ginjal (bila osmolalitas &gt;320 ml osmol/L. Manitol diberikan pada pasien koma, pupil reaktif kemudian menjadi dilatasi dengan atau tanpa gangguan motorik, pasien dengan pupil dilatasi bilateral non reaktif dengan hemodinamik normal dosis bolus 1 g/kgBB dilanjutkan dengan rumatan 0,25- 1 g/kgBB Usahakan pertahankan volume intravaskuler dengan mempertahankan osmolalitas serum &lt; 320 ml osmol/L.<br/><strong>Koma barbiturat (guideline): </strong>koma barbiturat dilakukan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial yang refrakter tanpa cedera difus, autoregulasi baik dan fungsi kardiovaskular adekuat. Mekanisme kerja barbiturat: menekan metabolism serebral, menurunkan aliran darah ke otak dan volume darah serebral, merubah tonus vaskuler, menahan radikal bebas dari peroksidasi lipid mengakibatkan supresi burst.<br/>Cairan garam hipertonis : cairan NaCl 0,9 %, 3%-27%. <br/>Kureshi dan Suarez menunjukkan penggunaan saline hipertonis efektif pada neuro trauma dengan hasil pengkerutan otak sehingga menurunkan tekanan intrakranial, mempertahankan volume intravaskular euvolume.Dengan akses vena sentral diberikan NaCl 3% 75 cc/jam dengan Cl 50%, asetat 50% target natrium 145-150 dengan monitor pemeriksaan natrium setiap 4-6 jam. Setelah target tercapai dilanjutkan dengan NaCl fisiologis sampai 4-5 hari<br/><strong>Kortikosteroid</strong>: Tidak direkomendasikan penggunaan glukokortikoid untuk menurunkan tekanan intrakranial baik dengan methyl prednisolon maupun dexamethason. Dearden dan Lamb meneliti dengan dosis &gt; 100 mg/hari tidak memberikan perbedaan signifikan pada tekanan intracranial dan setelah 1-6 bulan tidak ada perbedaan outcome yang signifikan. Efek samping yang dapat terjadi hiperglikemia (50%), perdarahan traktus gastrointestinal (85%). <br/><strong>NUTRISI (guideline)</strong>: dalam 2 minggu pertama pasien mengalami hipermetabolik, kehilangan kurang lebih 15% berat badan tubuh per minggu. Penurunan berat badan melebihi 30% akan meningkatkan mortalitas. diberikan kebutuhan metabolism istirahat dengan 140% kalori/ hari dengan formula berisi protein &gt; 15% diberikan selama 7 hari. Pilihan enteral feeding dapat mencegah kejadian hiperglikemi, infeksi.<br/><strong>Terapi prevensi kejang (guideline)</strong>: pada kejang awal dapat mencegah cedera lebih lanjut, peningkatan TIK, penghantaran dan konsumsi oksigen, pelepasan neuro transmiter yang dapat mencegah berkembangnya kejang onset lambat (mencegah efek kindling). Pemberian terapi profilaksis dengan fenitoin, karbamazepin efektif pada minggu pertama. Harus dievaluasi adanya faktor-faktor yang lain misalnya: hipoglikemi, gangguan elektrolit, infeksi.<br/>Terapi suportif yang lain : pasang kateter, nasogastrik tube, koreksi gangguan elektrolit, kontrol ketat glukosa darah, regulasi temperatur, profilaksi DVT, ulkus stress, ulkus dekubitus, sedasi dan blok neuro muscular, induksi hipotermi</p></li><li><div><strong>Apakah yang mempengaruhi mekanisme terjadinya fraktur pada trauma kapitis?<br
/> </strong></div><p>Cedera kepala secara luas diklasifikasikan sebagai tertutup dan penetrating. Sebetulnya tidak benar-benar dapat dipisahkan. Misalnya fraktura tengkorak terdepres dapat dimasukkan kesalah satu golongan tersebut, tergantung kedalaman dan parahnya cedera tulang. Istilah cedera kepala tertutup biasanya dihubungkan dengan kecelakaan kendaraan, jatuh dan pukulan, dan cedera kepala penetrating lebih sering dikaitkan dengan luka tembak dan luka tusuk.</p></li><li><strong>Apa yang anda ketahui tentang pembagian Cedera kepala ?<br
/> </strong></li></ol><ul
style="margin-left: 39pt"><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Simple Head Injury<br
/> </em></span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Diagnosa <em>simple head injury</em> dapat ditegakkan berdasarkan:<br
/> </span></p><ul><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Ada riwayat trauma kapitis<br
/> </span></div></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Tidak pingsan<br
/> </span></div></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Gejala sakit kepala dan pusing<br
/> </span></div></li></ul></li></ul><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus, cukup diberi obat simptomatik dan cukup istirahat.<br
/> </span></p><ul
style="margin-left: 39pt"><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Commotio Cerebri<br
/> </em></span></div><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Commotio cerebri</em> (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak.  Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak pucat.<br
/> </span></p></li><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Contusio Cerebri<br
/> </em></span></div></li></ul><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt">Pada <em>contusio cerebri</em> (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus<em>Laceratio Cerebri. </em>Dikatakan <em>laceratio cerebri</em> jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater.  Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral.  Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung.<em><br
/> </em>Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka.  Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis.<em><br
/> </em></span></p><ul
style="margin-left: 39pt"><li><div
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Fracture Basis Cranii</em><br
/> </span></div></li></ul><p
style="text-align: justify"><span
style="font-family:Times New Roman; font-size:12pt"><em>Fractur basis cranii</em> bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa posterior.  Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang terkena.<br
/> </span></p><ol><li><div><strong>Kelainan apa saja yang terdapat pada trauma kranio serebral berat?</strong></div><ol><li><div>Perubahan pola pernafasan</div><p>Perubahan pernafasan yang terjadi adalah:</p><ol><li>Pernafasan cheyne-stokes yang disertai priode pernafasan berhenti dan bernafas. Setelah</li><li>beberapa lamanya pernafasan berhenti, mulai bernafas lagi dengan amplitude yang mula-mula kecil kemudian berangsur-angsur membesar lalu mengecil lagi dan berhenti.</li><li>Takipenia, frekuensi pernafasan tinggi lebih dari 25/ menit</li><li>Hipernea, amplitude pernafasan besar.</li><li>Pernafasan tak beratur.</li><li>Apnea, pernafasan terhenti. Pada keadaan ini bantuan pernafasan harus cepat dilakukan untuk meno;ong jiwa pasien.</li></ol></li><li><div><strong>Apa yang anda ketahui tentang 3 Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak?<br
/> </strong></div><p
style="text-align: justify; margin-left: 18pt"><span
style="color:black">1. Dura mater</span></p><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black">Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara dura mater dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut <em>Bridging Veins</em>, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat<br
/> </span></p><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black">2. selaput arakhnoid<br
/> </span></p><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black">Selauput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang.selaput  arakhnoid terletak anatara pia mater sebelah dalam dan dura meter sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura meter oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarachnoid yang terisi oleh liquor serebralis. Pendarahan sub arakhnoid umunya disebabkan akibat cedera kepala.<br
/> </span></p><p
style="margin-left: 18pt"><span
style="color:black">3. Pia mater</span></p><p
style="text-align: justify; margin-left: 18pt"><span
style="color:black">Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adarah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater.</span></p><ol><li><strong>Terjadinya benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan, keadaan yang anda ketahui apakah?<br
/> </strong></li></ol></li></ol><p
style="text-align: justify">1. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak,</p><p
style="text-align: justify">2. Kepala yang bergerak membentur benda yang diam dan,</p><p
style="text-align: justify; margin-left: 49pt">3. Kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar pada benda yang lain dibentur oleh benda yang bergerak (kepala tergencet).</p><ol><li><div><strong>Factor-faktor apa saja yang memperburuk prognosis pada cdera kepala?<br
/> </strong></div><p
style="margin-left: 13pt"><span
style="color:black">Terlambatnya penanganan awal/resusitasi, pengangkutan/transport yang tidak adekuat, dikirim ke rumah sakit yang tidak adekuat, terlambatnya delakukan tindakan bedah dan adanya cedera multipel yang lain</span><strong><br/></strong></p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="margin-left: 13pt">  </p><p
style="text-align: center; margin-left: 13pt">DAFTAR PUSTAKA</p></li></ol></li></ol><ul><li><a
href="http://rusari.com/askep_cedera_kepala.html"><br
/><h4><span
style="color:navy; text-decoration:underline">http://rusari.com/askep_cedera_kepala.html</span></h4><p></a><br
/><h4><span
style="color:black"><br
/> </span></h4></li><li><a
href="http://iwansain.wordpress.com/2007/08/28/asuhan-keperawatan-klien-dg-trauma-kapitis/"><span
style="color:navy; text-decoration:underline">http://iwansain.wordpress.com/2007/08/28/asuhan-keperawatan-klien-dg-trauma-kapitis/</span></a><strong><em><br
/> </em></strong></li><li><strong><em> <a
href="http://yenibeth.wordpress.com/2008/08/05/askep-pada-trauma-kapitis/"/></em></strong><span
style="color:navy; text-decoration:underline">http://yenibeth.wordpress.com/2008/08/05/askep-pada-trauma-kapitis/</span><strong><em><br
/> </em></strong></li><li><a
href="http://pdskjijaya.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=123&amp;Itemid=1"><span
style="color:navy; font-family:Arial; text-decoration:underline">http://pdskjijaya.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=123&amp;Itemid=1</span></a><span
style="font-family:Arial"><br
/> </span></li><li><a
href="http://medlinux.blogspot.com/2007/11/cedera-kepala.html"><span
style="color:navy; text-decoration:underline">http://medlinux.blogspot.com/2007/11/cedera-kepala.html</span></a></li><li><a
href="http://muslimpinang.wordpress.com/2008/02/22/trauma-kepala-ringan-anak-jatuh/"><span
style="color:navy; text-decoration:underline">http://muslimpinang.wordpress.com/2008/02/22/trauma-kepala-ringan-anak-jatuh/</span></a></li><li>M. Rudolph Abraham, I.E. Hoffman Julien, D. Rudolph Colin. Buku ajar pediatric Rudolph volume 1. jakarta : EGC. 2006</li><li>Bailey Hamilton. Ilmu bedah gawat darurat edisi II. Yogyakarta : gaja mada universiti pree. 1992</li><li>Prof. DR. Dr. Iskandar Wahidiyat, Prof. DR. Dr. Sudigdo Sastroasmoro, Prof. Dr. Corry S. Matondang. Diagnosa Fisis Pada Anak Edisi ke 2. Jakarta : PT Sagung Seto. 2000</li><li>R. Sjamsuhidayat, WIm de jog. Buku ajar ilmu bedah. Jakarta: EGC, 1997.</li><li><div>Soemarno markam, Djaja Surya Atmadja, Arif Budijanto. Buku cedera tertutup kepala. Jakarta: fakultas kedokteran universitas Jakarta, 1999.</div><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p><p>  </p></li></ul><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/cedera-atau-trauma-kepala/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Tumor di Usus Besar</title><link>http://dokteryudabedah.com/tumor-di-usus-besar/</link> <comments>http://dokteryudabedah.com/tumor-di-usus-besar/#comments</comments> <pubDate>Mon, 03 Jan 2011 11:34:41 +0000</pubDate> <dc:creator>yuda handaya</dc:creator> <category><![CDATA[Artikel Penyakit Bedah]]></category> <category><![CDATA[tumor usus]]></category> <category><![CDATA[tumor usus besar]]></category> <category><![CDATA[Usus besar]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dokteryudabedah.com/?p=312</guid> <description><![CDATA[Definisi Tumor Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada bagian saluran Usus besar. Tumor usus besar biasanya merupakan penyakit yang terjadi pada orang tua, dengan insidensi puncak pada usia 60 dan 70 tahun. Pathofisiologi Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (digestive system) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan, membentuk suatu pipa panjang <a
href="http://dokteryudabedah.com/tumor-di-usus-besar/"><b>...Read the Rest</b></a>]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p><a
href="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/01/zTumor-Usus-Besar-web-version.jpg"><img
class="alignnone size-full wp-image-313" title="zTumor Usus Besar (web-version)" src="http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads/2011/01/zTumor-Usus-Besar-web-version.jpg" alt="" width="452" height="640" /></a></p><p>Definisi</p><p>Tumor Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada bagian saluran Usus besar. Tumor usus besar biasanya merupakan penyakit yang terjadi pada orang tua, dengan insidensi puncak pada usia 60 dan 70 tahun.</p><p>Pathofisiologi</p><p>Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (digestive system) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan, membentuk suatu pipa panjang yang berujung pada Rektum (rectum) dekat dubur (anus). Seperti semua organ-organ lain didalam tubuh, usus besar (colon) terdiri dari banyak tipe-tipe dari sel-sel. Secara normal, sel-sel membelah untuk menghasilkan lebih banyak sel-sel lain ketika tubuh membutuhkan mereka. Proses yang teratur in membantu untuk  mempertahankan tubuh agar tetap sehat.</p><p>Namun jika se-sel ini tetap terus membelah/berkembang ketika sel-sel baru tidak diperlukan oleh tubuh, maka suatu massa dari jaringan baru terbentuk. Massa dari jaringan ekstra ini disebut Tumor, dimana tumor dapat ramah (tidak berbahaya) atau ganas (berbahaya) yang disebut Kanker.</p><p>Tumor-tumor ramah dari usus besar disebut polip-polip (polyps). Polip-polip ramah tidak menyerang jaringan yang berdekatan dengannya atau menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Polip-polip ramah dapat diangkat dengan mudah sewaktu colonoscopy dan bukan ancaman nyawa. Jika polip-polip ramah tidak diangkat dari usus besar, mereka dapat menjadi ganas (kanker) yang dapat menyebabkan kematian. Tumor ganas (kanker) usus besar dan rektum, juga dirujuk sebagai kanker kolorektal ( colorectal cancer), dapat menyerang dan merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang berdekatan. Sel-sel tumor ganas (kanker) juga dapat pecah dan keluar dan menyebar pada bagian-bagian lain tubuh (seperti hati dan paru-paru) dimana tumor-tumor baru terbentuk.</p><p>Gejala klinis</p><ol><li>Perubahan kebiasaan buang air besar (Mencret / Mringkil.</li><li>Berak darah dan lendir.</li><li>Penurunan berat badan.</li><li>Anemia, Pucat, Kembung, Sulit berak.</li><li>Kadang bengkak pada perut.</li></ol><p>Penatalaksanaan</p><p>Salah satu tata cara penanganan Tumor Usus Besar yang paling efektif adalah dengan cara Pembedahan, yang didahului dengan pemeriksaan Colonoscopy, suatu prosedur dimana dokter memasukkan suatu tabung panjang penglihat (optical) yang lentur kedalam rektum (dubur) dengan tujuan memeriksa bagian dalam dari seluruh usus besar. Prosedur Colonoscopy ini lebih dipertimbangkan karena lebih akurat daripada barium enema x-rays.</p><div
style='clear:both'></div>]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://dokteryudabedah.com/tumor-di-usus-besar/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced

Served from: dokteryudabedah.com @ 2012-05-20 06:04:54 -->
